Sabtu, 30 September 2017

Sistem Informasi Psikologi




Nama : Adleni Yusli Anggraeni (10514336)
             Indah Anugrah (15514253)
Kelas : 4PA19

Pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan definisi dari Sistem Informasi Psikologi. Namun sebelum kami menjelaskan definisinya, kami akan menjelaskan definisi dari masing-masing kata Sistem, Informasi, dan Psikologi. Sebagai berikut penjelasannya :
1. Pengertian Sistem
Sistem merupakan kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam sistem terdapat beberapa elemen yaitu, input, process, dan output.
2. Pengertian Informasi
Informasi merupakan hasil dari data yang telah melalui suatu proses. Informasi terbentuk dari data yang sudah diproses, data yang sudah memiliki makna, dan data yang ditempatkan pada suatu konteks. Karakteristik informasi yang baik diantaranya, relevan, tepat waktu, akurat, mengurangi ketidakpastian dan mengandung elemen yang baru.
3. Pengertian Psikologi
Pada umumnya definifi psikologi adalah sebuah studi ilmiah pemikiran dan perilaku manusia, serta penerapannya pada permasalahan manusia.
Menurut Wundt, psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan panca indera, pikiran, merasa dan kehendak
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari pemikiran dan perilaku serta pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia.
4. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Sistem informasi psikologi merupakan salah satu contoh dari sistem informasi itu sendiri. definisi sistem informasi psikologi adalah suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi.
Contohnya adalah tes IQ yg sudah banyak beredar di situs web atau aplikasi-aplikasi yang dapat di-install di gadget.

Sumber :
Basuki, H. (2008). Psikologi Umum Seri Diklat Kuliah. Jakarta ; Universitas Gunadarma.

Minggu, 23 Juli 2017

Psikoterapi “Review Film”

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
ADLENI YUSLI ANGGRAENI (10514336)
ERVINA ULFAH (13514650)
NURMALINDA RUSANTI (18514235)
SANDI P SIREGAR (19514980)
KELAS : 3PA19


Judul               : Hellen Keller –The Miracle Worker
Sutradara         : Nadia Tass
Penulis             : Monte Merrick
Produksi          : Fountain Productions dan Walt Disney Television
Pemain            : Alison Elliott
                          Hallie Kate Eisenberg
                          Lucas Black
                          Kate Greenhouse
                          David Strathairn
Tanggal Rilis   : 12 November 2000
Durasi              : 95 menit
Sinopsis           : Film ini merupakan film remake dari film sebelumnya pada tahun 1962 yang
diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Hellen Keller. Hellen Keller adalah seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang menderita tuna netra, tuna rungu dan tuna wicara. Hellen Keller merupakan anak dari pasangan Arthur Keller dan Catie Keller, ia juga mempunyai kakak tiri bernama James dan seorang adik bayi. Keterbatasan yang dimiliki Hellen tersebut membuat ayahnya hendak memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Namun ibu dan bibi Hellen tidak menyetujui hal tersebut. Sehingga kemudian bibi Hellen menyarankan agar ayah Hellen mengirimkan surat kepada Dr. Chisolm di Baltimore guna meminta dikirimkan seorang pengasuh sekaligus pengajar untuk Hellen. Surat itupun akhirnya sampai pada Dr. Chisolm dan beliau langsung menugaskan Ny. Annie Sullivan untuk menjadi pengasuh sekaligus pengajar Hellen. Ny. Sullivan mempunyai latar belakang yang hampir serupa dengan apa yang dialami Hellen. Sesampainya di kediaman keluarga Keller, Ny. Sullivan langsung mengadakan pendekatan dengan Hellen. Ia sempat dikunci oleh Hellen di dalam kamarnya karena Hellen merasa terganggu akan kehadirannya. Namun, kejadian tersebut tidak menyurutkan niat Ny. Sullivan untuk mengasuh serta mengajar Hellen. Suatu saat ketika keluarga Keller sedang makan bersama, seperti biasanya, Hellen mengambil makanan dari piring-piring anggota keluarganya dengan tangannya kemudian memakannya. Ny. Sullivan tidak mau jika Hellen melakukan hal ini secara terus-menerus. Akhirnya ia meminta agar seluruh anggota keluarga Keller meninggalkannya bersama Hellen di ruang makan. Ny. Sullivan melatih Hellen di dalam ruang makan selama beberapa waktu. Proses pelatihan ini tidak mudah karena Ny.Sullivan memerlukan usaha yang keras dalam melatih Hellen, bahkan proses pelatihan ini menyebabkan keadaan di ruang makan menjadi berantakan. Namun, akhirnya usaha ini sukses dan Hellen pun mampu makan menggunakan piring sendiri bahkan mampu menggunakan sendok serta garpu. Kemajuan ini ternyata tidak memberikan respon positif dari keluarga Keller. Keluarga Keller merasa tidak senang dengan cara Ny.Sullivan melatih Hellen. Keluarga Hellen merasa anaknya kelihatan tertekan. Hal ini membuat mereka berniat untuk memecat Ny. Sullivan. Akan tetapi Ny. Sullivan bersikeras untuk menggasuh dan mengajar Hellen serta memberikan pemahaman kepada keluarga Keller bahwa Hellen sangat membutuhkannya. Selain itu Ny. Sullivan juga menjelaskan bahwa meskipun Hellen mempunyai keterbatasan indera, di lain sisi ia mempunyai kecerdasan yang tinggi. Setelah berdiskusi bersama, akhirrnya keluarga Keller menyetujui niat Ny. Sullivan untuk mengasuh serta mengajar Hellen dengan caranya sendiri. Sekarang Ny. Sullivan meminta agar ia dan Hellen ditempatkan di rumah yang terpisah dari keluarga Hellen. Sebuah gudang yang letaknya masih berdekatan dengan lokasi rumah Hellen akhirnya dijadikan tempat tinggal sementara untuk Ny. Sullivan dan Hellen. Sebelum Hellen diajak masuk ke dalam rumah yang akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya bersama Ny. Sullivan, ia diajak berkeliling menggunakan kereta selama berjam-jam agar Hellen merasa kalau tempat tersebut berada jauh dari rumahnya. Keluarga Keller memberikan jangka waktu yang terbatas kepada Ny. Sullivan dalam mengasuh dan mengajar Hellen. Pada awalnya Hellen sempat merasa takut dan terganggu. Namun akhirnya Ny. Sullivan berhasil mendekati dan bahkan kini ia menjadi akrab dengan Hellen. Ia mengajarkan Hellen tentang kata-kata benda yang ada di sekitarnya dengan menggunakan sandi tangan. Dengan cepat Hellen mampu menggunakan sandi tangan yang diajarkan oleh Ny. Sullivan, akan tetapi Hellen belum bisa menanamkan konsep tentang makna dari kata tersebut sampai pada hari terakhir untuk waktu yang diberikan oleh keluarga Keller. Kemudian Ny. Sullivan meminta tambahan waktu kepada keluarga Keller dalam mengasuh serta mengajari Hellen. Keluarga Keller enggan memberikan tambahan waktu tersebut. Karena berakhirnya waktu yang diberikan kepada Ny. Sullivan, Hellenpun kembali dibawa pulang ke rumah oleh keluarga Keller. Hingga tiba waktu makan bersama keluarga Keller, Hellen kembali makan dengan cara yang biasa ia gunakan sebelumnya yaitu memakan makanan dari piring-piring anggota keluarga yang makan. Hal ini membuat Ny. Sullivan kembali bersikeras untuk meminta waktu tambahan dalam mengajar Hellen agar apa yang telah diajarkannya kepada Hellen tidak hilang begitu saja. Di lain pihak keluarga Keller tetap tidak mau memberikan waktu tambahan untuk Ny. Sullivan. Akhirnya Ny. Sullivan membawa Hellen keluar rumah dan menuju sumur pompa yang terletak di depan rumah keluarga Keller. Meskipun awalnya keluarga Keller tidak merelakan, namun akhirnya keluarga tersebut merelakannya. Selang beberapa waktu, dengan sumur pompa dan air tersebut akhirnya Hellen mampu memahami apa yang selama ini diajarkan oleh Ny. Sullivan kepadanya. Kata pertama yang dipahami hellen adalah “water”, dan diikuti dengan kata-kata yang lainnya karena Hellen meminta Ny. Sullivan untuk mengajarkannya kembali tentang apa yang belum ia pahami. Kemudian Hellenpun tumbuh menjadi dewasa serta mampu menjadi seorang penngacara terkenal meskipun ia mempunyai banyak kerterbatasan, dan Ny. Sullivan tetap menjadi seorang guru yang menemaninya.

Terapi yang digunakan Ny. Sullivan kepada Hellen merupakan terapi individu dan juga terapi play. Walaupun pada awalnya Hellen masih kurang mengerti makna dari kata-kata yang diberikan Ny. Sullivan tapi pada akhirnya Hellen mengerti juga.

Minggu, 07 Mei 2017

Psikoterapi

     Pada hari ini, saya akan mencoba menjelaskan mengapa psikoterapi dalam psikoanalisis menganalisa psikopatologis berdasarkan perkembangan psikoseksual!
     Menurut pemahaman saya, dikarenakan Sigmund Freud semenjak kecil mempunyai pengalaman masa kanak-kanak terhadap perasaan erotis yang direpresi atau dipendam, dan konflik tidak sadar yang dapat memengaruhi perilakunya dimasa dewasa. Freud pernah mempelajari cara untuk meng-hypnosis seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan atau mental. Namun tidak ia teruskan, menurutnya cara hypnosis tidak dapat diterapkan bagi semua pasiennya.
     Kemudian pada akhir abad ke-19, beberapa dokter dan ilmuwan, termasuk Richard von Krafft-Ebing dan Havelock Ellis, mulai menulis buku-buku mengenai seksualitas manusia dan penyimpangan seksual. Freud tertarik dengan beranekaragamannya pengalaman seksual yang ia baca dan yang ia temukan dari pasien-pasiennya sendiri, sehingga Freud berkeinginan untuk mengetahui mengapa beberapa orang ingin melakukan hubungan seksual dengan beberapa macam objek. Misalkannya saja dengan anak-anak, dengan mayat, dengan binatang, dengan cambuk dan rantai, dengan sepatu, dalam kelompok, di depan orang-orang, dengan obsesif, dan seterusnya. Kemudian Freud mencoba untuk menemukan alasan mengapa energi seksual dapat diarahkan ke begitu banyak cara.
     Freud sendiri mengemukakan beberapa tahapan perkembangan psikoseksual, diantaranya tahap oral, tahap anal, tahap phalik, tahap laten, dan tahap genital.
     Demikianlah penjelasan singkat mengenai alasan psikoterapi dalam psikoanalisis menganalisa psikopatologis berdasarkan perkembangan psikoseksual.

Minggu, 02 April 2017

Sejarah Psyche

Nama Kelompok : Adleni Yusli Anggraeni (10514336)
                              Ervina Ulfah (13514650)
                              Nurmalinda Rusanti (18514235)
                              Sandi P S (19514980)
Kelas                  : 3PA19

Sejarah Tentang Psyche
Psyche merupakan salah satu tokoh dalam cerita Yunani Kuno, yaitu The Tale of Cupid and Psyche. Psyche merupakan nama dari seorang putri raja di kerajaan Yunani. Kemudian terdapat seorang Dewa bernama Cupid yang jatuh cinta kepadanya. Cupid mengirimkan pesan kepada sang putri Psyche untuk membuat gadis itu datang kepadanya di istananya di atas bukti pada malam hari. Mereka akan bercinta, tetapi Psyche memberikan satu syarat. Persetubuhan mereka harus dilakukan dalam keadaan gelap gulita. Agar Psyche harus percaya bahwa ia menikmati percintaan dengan seorang Dewa.
Namun, kakak perempuan Psyche cemburu pada adiknya, sehingga ia mengejeknya dan mengatakan kepada Psyche bahwa seorang Dewa yang ingin bercinta dengannya merupakan ular raksasa yang mengerikan. Setelah itu, ketika malam hari setelah bercinta, Psyche tidak bisa menahan rasa penasarannya kepada Dewa tersebut. Kemudian, Psyche membawa lampu minyak untuk melihat wajah Dewa tersebut. Psyche sangat senang bahwa wajah Dewa tersebut muda dan sangat tampan. Namun, saat itu setetes minyak panas menetes di atasnya sehingga membangunkan Cupid. Psyche kemudian diusir dari hadapannya untuk selamanya.
Kemudian dalam Psikologi, psyche merupakan salah satu kata yang berarti jiwa atau roh, yang disandingkan dengan kata logos yang berarti ilmu. Yang mengacu pada ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Para tokoh dalam psikologi adalah Willhelm Wundt, Aristoteles, Max Weber, Socrates, Plato, dsb.


Referensi :
Black,J. (2015). The secret history of the world. Tangerang Selatan : PT Pustaka Alvabet

Senin, 21 November 2016

JOB ENRICHMENT

NAMA : ADLENI YUSLI ANGGRAENI
KELAS : 3PA19
NPM : 10514336

A.    PENDAHULUAN
Job enrichment merupakan suatu usaha perusahaan untuk menigkatkan daya pekerjaan terhadap seorang pekerja atau karyawan.

B.     TEORI
Menurut Hariandja, job enrichment adalah meningkatkan otonomi seseorang dalam mengatur pekerjaannya.

C.     KASUS
Seseorang petugas di dalam melakukan pekerjaannya sebelumnya diatur oleh suatu prosedur yang ketat, dimana dia tidak diberikan wewenang atau hak untuk memilih bahan-bahan yang dibutuhkan, atau untuk mengatur pekerjaannya.

D.    ANALISIS KASUS
Pada kasus dia atas, terdapat perubahan yang memberikan tantangan yang lebih besar bagi dia dan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja dan keprodutivitas.

E.     REFERENSI

Hariandja, M. T. E. (2002). Sumber daya manusia. Jakarta: PT Gramedia

Minggu, 06 November 2016

REINFORCEMENT, HARAPAN, PENETAPAN TUJUAN, DAN HIRARKI KEBUTUHAN

 NAMA           : ADLENI YUSLI ANGGRAENI
NPM/KELAS : 10514336 / 3PA19
PSIKOLOGI MANAJEMEN


A.    PENDAHULUAN
1.      Reinforcement
Merupakan teori yang sering kita gunakan di kehidupan sehari-hari namun jarang ada yang menyadarinya. Penerapan teori reinforcement biasa dijumpai di rumah, sekolah bahkan di tempat kerja.
2.      Harapan
Semua orang pasti mempunyai harapan dengan apa yang akan dia lakukan atau yang telah dia lakukan. Dan hasilnya sesuai dengan proses yang dia lakukan. Jika dia berusaha keras maka hasilnya akan bagus, begitu juga jika dia belum berusaha keras maka hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
3.      Penetapan Tujuan
Apa yang akan kita lakukan semua memiliki tujuan tergantung dengan hambatan apa yang akan kita terima.
4.      Hirarki Kebutuhan
Teori kebutuhan yang sangat terkenal adalah teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow. Jika dilihat dari sudut motivasi, teori dari Maslow ini mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhan yang benar-benar dipenuhi, sebuah kebutuhan yang pada dasarnya telah dipenuhi tidak lagi memotivasi sehingga bila ingin memotivasi seseorang, anda harus memahami tingkat hirarki dimana orang tersebut berada saat ini.
B.     TEORI
1.      Reinforcement
Reinforcement atau penguatan adalah konsekuansi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat dan penguatan terbagi menjadi dua yaitu, penguatan positif dan penguatan negatif. Teori ini diterapkan di tempat kerja dan biasa dikatakan sebagai bonus setelah seorang karyawan melampaui targetnya.
2.      Harapan
Menurut Victor Vroom, teori harapan adalah kekuatan dari kecederungan untuk bertindak dalam cara tertentu tergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut. Biasanya teori ini sering ditemui dalam organisasi dimana para anggota dalam organisasi mempunyai harapan untuk kesuksesan acara atau kegiatan yang akan mereka atau yang sedang dilakukan.
3.      Penetapan Tujuan
Edwin Locke mengemukakan bahwa niat untuk mencapai sebuah tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Maksudnya untuk memberi tahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan. Di dalam organisasi penetapan tujuan biasa dikenal dengan planning, dimana pada waktu tertentu mereka harus mencapai target yang telah ditentukan.
4.      Hirarki Kebutuhan
Dalam teori hirarki kebutuhan, Maslow membuat hipotesis bahwa setiap diri manusia terdapat hirarki lima kebutuhan, diantaranya fisiologis, rasa aman, social, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Dalam organisasi dampak hiarki kebutuhan sangat diperlukan, misalnya perlunya pengakuan dari luar terhadap organisasi tersebut.
C.     KASUS
1.      Reinforcement
Ada seorang buruh pekerja di salah satu perusahaan teh. Dalam perusahaannya dikatakan setiap orang atau pekerja diharuskan memasang merek sehari 100 strip atau kardus teh. Dan seorang buruh tersebut setiap harinya dapat memasang merek sejumlah 300 strip atau 3 kardus teh.
2.      Harapan
Organisasi siswa intra sekolah atau OSIS akan mengadakan acara pentas seni atau pensi. Kemudian mereka menyusun hal apa saja yang akan dipertunjukan kepada murid lain di dalam maupun di luar sekolah.
3.      Penetapan Tujuan
Sebuah perusahaan akan mengadakan training kepada karyawan baru melatih kemampuan karyawa baru tersebut.
4.      Hirarki Kebutuhan
Seorang psikolog yang ingin membuka praktek maka ia harus terdaftar dalam HIMPsi.
D.    ANALISIS KASUS
1.      Reinforcement
Karena seorang buruh tersebut setiap harinya sudah melampaui target yang sudah ditentukan perusahaan maka perusahaan tersebut memberikan hadiah atau bonus setelah apa yang sudah dilakukan buruh tersebut.
2.      Harapan
Setelah acara tersebut dilaksanakan maka harapan para anggota OSIS telah tercapai dengan kesuksesan diselenggarakannya acara tersebut.
3.      Penetapan Tujuan
Sepulang dari acara training diharapkan para karyawan baru dapat bekerja sesuai dengan posisiya masing-masing dan secara maksimal.
4.      Hirarki Kebutuhan
Karena sudah terdaftar di HIMPsi maka psikolog itu berhak membuka prakteknya secara legal.
E.     REFERENSI

Robbins, S.P.,& Judge, T.A. (2008). Perilaku organisasi. Jakarta: Salemba Empat

Selasa, 18 Oktober 2016

TUGAS SOFTSKILL 3

 NAMA           : ADLENI YUSLI ANGGRAENI
NPM/KELAS : 10514336 / 3PA19
PSIKOLOGI MANAJEMEN
KEKUASAAN, LEADERSHIP DAN MOTIVASI

A.    PENDAHULUAN
Kekuasaan dikenal sebagai suatu tiingkatan dalam hidup. Hal yang dikenal dari seorang yang hebat adalah kekuasaannya. Dikarenakan kekuasaan tersebut seseuatu hal yang dapat mengatur semua orang.

B.     TEORI
1.      Kekuasaan
Ada beberapa tokoh yang berpendapat mengenai definisi kekuasaan, diantaranya:
·         Max Weber, kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam suatu hubungan social untuk melakukan kemauan sendiri sekalipun terdapat perlawanan. (M. Budiardjo, 1983:16)
·         C. Wright Mills, kekuasaan adalah dominasi, dimana kemampuan untuk melaksanakan kemauan kendatipun orang lain menentangnya.
Jadi, dapat dikatakan bahwa kekuasaan merupakan kemampuan seseorang yang melakukan sesuatu untuk keinginannya walaupun orang lain menentang hal tersebut.
Kekuasaan bersifat multiform yaitu beraneka bentuk. Kemudian dalam kekuasaan memiliki masalah-masalah yang terkait masalah sosial, psikologis dan masalah keamanan.
Kekuasaan yang biasa kita temui pada interaksi sosial mempunyai beberapa unsur pokok, yaitu :
-          Rasa Takut       -          Rasa Cinta          -          Kepercayaan           -          Pemujaan


Kemudian jika dilihat pelaksanaannya dalam masyarakat terdapat saluran-saluran diantaranya, saluran militer, ekonomis, politik, tradisional dan ideologi.
2.      Leadership atau Kepemimpinan
Leadership atau kepemimpinan adalah suatu perilaku individu yang mempunyai sikap pemimpin. Seseorang dikatakan pemimpin apabila ia memiliki sikap yang menerima pendapat/ kritik/ saran dari orang lain, bijaksana dalam menentukan keputusan.
3.      Motivasi
Motivasi berasal dari kata dasar motif yang berarti suatu dorongan yang disadari atau tidak disadari, yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku. Dimana dorongan tersebut yang membuat kita memenuhi kemauan/ keinginan/ pun kebutuhan yang ingin dicapai. Seperti halnya teori dari Maslow yaitu hierarki kebutuhan. Dimana disebutkan bahwa manusia mempunyai lima tingkatan kebutuhan, diantaranya; kebutuhan sandang pangan papan, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan kasih saying, kebutuhan akan harga diri dan terakhir, aktualisasi diri.

C.     KASUS
Bagaimana gaya kepemimpinan Soekarno, Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono serta Bapak Presiden Indonesia yang sekarang menjabat, Joko Widodo?

D.    ANALISIS KASUS
Berikut gaya kepemimpinan para tokoh penting di Indonesia, yaitu;
1.      Soekarno
Soekarno atau yang biasa disapa Bung Karno ini adalah seorang Proklamator Indonesia. Beliau memiliki gaya kepemimpinan yang berorientasi pada moral dan etika ideology yang mendasari Negara atau partai sehingga sangat konsisten dan fanatik. Sifat yang terkenal dari Bung Karno adalah percaya diri yang kuat, penuh daya tarik, penuh inisiatif dan inovatif serta kaya akan ide atau gagasan baru. Soekarno adalah seorang anti-komunisme pertama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sehingga pada puncak kepemimpinannya, beliau pernah menjadi panutan dan sumber inspirasi pergerakan kemerdekaan dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta melepas ketergantungan dari Negara-negara Barat.
2.      Soeharto
Soeharto merupakan pemimpin yang memiliki visi dan misi serta target jangka pendek dan jangka panjang yang jelas. Mahir dalam strategi, details dan pandai dalam menggunakan kesempatan. Pembawaannya formal dan tidak hangat dalam bergaul. Gaya kepemimpinan Soeharto merupakan gabungan dari proaktif-ekstratif dengan adaptif-antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempnyai visi yang jauh ke depan dan sadar akan langkah penyesuaian.
3.      Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono atau yang biasa disapa dengan Bapak SBY merupakan presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Dan Bapak SBY adalah pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan yang demokratis.  Pembawaan SBY yang karena dibesarkan dalam lingkungan tentara dan ia juga berlatar belakang tentara, tampak agak formal. Beliau selalu santun dalam berpenampilan dan berbusana. Sebagai pemimpin beliau mampu mengambil keputusan kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.
4.      Joko Widodo
Jokowi merupakan pemimpin yang sangat menyenangkan. Dalam kepemimpinan Jokowi memiliki banyak gaya kepemimpinan. Pertama, gaya kepemimpinan transformatif. Dalam pengambilan kebijakan, Jokowi mengajak pihak terkait untuk bicara. Pembicaraan yang dilakukan dengan maksud mewadahi aspirasi secara langsung, terkait kebijakan yang akan diterapkan. Kedua, gaya kepemimpinan transaksional. Setiap kebijakan yang dikeluarkan Jokowi disertai iming-iming. Semisal, bila pasar direnovasi, janjinya pasar akan lebih laku dan maju, serta didirikan koperasi pasar. Janji tersebut memang dipenuhi, karena memang iming-iming dapat meredam gejolak penolakan. Ketiga, gaya kepemimpinan otoriter. Jokowi menerapkan Zero Grow Lock, yaitu mengunci jumlah PKL dalam suatu wilayah. Hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah PKL yang tersebar. Jika ada PKL baru berjualan di wilayah yang sudah dikunci maka akan segera dipindahkan ke wilayah lain, sesuai kebijakan DPP (Departemen Pengelolaan Pasar).

E.     REFERENSI
Siagian, Sondang P.(2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Penerbit:Bumi Aksara
Winardi,J.(2007).Motivasi dan Pemotivasian.Jakarta.Penerbit:Raja Grafindo Persada